Disclosure
Dukungan di masa sulit seorang istri ibarat surga kecil di bumi. Hal ini tergambar begitu jelas di film Disclosure. So, ada nggak ya perempuan zaman sekarang yang seperti yang di kisahkan dalam film itu? Wish that i’ll find her someday
Nafas seakan tercekat di tenggorokan. Beberapa pasang mata serentak memadati jendela. Mengintip siapakah gerangan pengawas ruangan yang akan memasuki. Dari kejauhan, berjalan santai sosok yang selama ini sangat tidak diharapkan untuk mengawasi jalannya ujian. Bukan karena tampangnya jelek atau menyeramkan. Ia jauh dari itu semua. Bahkan, wajahnya termasuk kategori menyenangkan untuk dipandang. Apalagi senyumnya. Bee…bisa membuat jantung siswi-siswi meloncat keluar dada. Namun, dibalik penampilannya yang menyenangkan itu, tersembunyi rapi ketegasan yang terbungkus kaku, ibarat laku para priyayi.
Kian sosok itu mendekat, kian menipis harapan untuk dapat “bergotong royong” mengerjakan soal ujian di hari pertama ujian semester ini
Dukungan di masa sulit seorang istri ibarat surga kecil di bumi. Hal ini tergambar begitu jelas di film Disclosure. So, ada nggak ya perempuan zaman sekarang yang seperti yang di kisahkan dalam film itu? Wish that i’ll find her someday
Beberapa hari yang lalu, aku sempat menonton bioskop Trans TV. Kebetulan malam itu film yang diputar adalah Charlie and The Choclate factory. Dari film itu, aku di ajarkan bahwa kesuksesan tiada berarti apa-apa jika kesuksesan itu tidak kita nikmati bersama keluarga kita. Keluarga adalah segalanya. Temanku dari Bali pernah berkata, saya boleh hebat di mata bos saya, di mata rekan kerja saya. Tapi, percuma saja kalau saya tidak hebat di mata keluarga saya.
Di depan sebuah toko sepatu ada semacam spanduk yang tulisannya agak menyentilku. Tulisannya berbunyi “Asyiknya menikmati kebersamaan dalam kesuksesan”. Apalagi bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai, menambah nikmat aroma kesuksesan yang kita raih.
Tangan ini ringkih meraih tuts-tuts keyboard untuk mengukir hariku kini. Sepanjang hari tiada prasasti kehidupan yang terukir. Di penghujung hari kemuliaan, aku terpekur menangisi kepergian sang waktu yang begitu cepat. Aku pergi dan takkan kembali. Biarlah air mata untuk yang abadi. Aku pergi, ke alam yang suci. AKhir dari abadi cintaku
Aku tak bisa memungkiri perasaanku sendiri bahwa ada tarikan-tarikan dalam jiwaku yang mengharuskan aku memutar kembali memoriku dulu. Dulu pernah aku menghasratkan diri tuk belajar menuliskan rasa dan diri ini. Hingga detik ini tercipta sebuah tulisan pun tak ada. Akhirnya biarlah aku pasrahkan diri ini pada jiwa yang mengertiku
Ada sebuah kisah
kisah seorang putri yang sekarang jadi legenda
banyak pangeran melamar sang putri yang cantik jelita
si putri bingung memilih salah satu diantaranya
demi keadilan, tak satu pun lamaran yang di terima
demi mencegah petaka di antara rakyatnya
si putri mengorbankan jiwa dan raganya demi negara
menyerahkan jiwanya
di luasnya pantai kuta
Putri mandalika
putri yang menjadi cerita
putri mandalika
putri yang bijaksana
putri mandalika
putri yang jadi legenda
putri mandalika
putri yang jadi pujaan
Seorang profesor di negeri antah berantah ingin meneliti perilaku monyet terhadap kesulitan. Maka di lepaslah 2 ekor monyet, monyet A dan monyet B, ke dalam sebuah ruangan gelap. Di tengah-tengah ruangan itu di letakkan tiang yang di ujungnya diikat seikat pisang. Melihat makanan kesukaannya, kedua monyet itu pun berlomba memanjat tiang tersebut. Monyet A mencoba pertama, ditonton oleh monyet B. Ketika monyet A akan meraih pisang, tiba-tiba sang profesor menyiram si monyet hingga monyet A terkejut dan terjatuh. Monyet A terus berusaha, namun terus saja ketika akan meraih pisang, disiram oleh sang profesor. Hingga akhirnya monyet A menyerah.
Kini, monyet A dikeluarkan dan sang profesor tidak akan menyiramkan air lagi. Untuk menggantikan monyet A, dimasukkanlah monyet C. Ketika masuk ruangan, monyet C pun tergiur melihat seikat pisang tersebut dan mencoba untuk memanjat tiang tersebut. Melihat monyet C siap-siap memanjat, si monyet B belajar dari pengalaman monyet A, bahwa kalau sudah sampai ujung tiang pasti akan disiram, berusaha mencegah monyet C untuk memanjat dengan berkata kepada monyet C “Eh, kamu jangan manjat tiang itu”. Dengan heran monyet C menjawab “Lho kenapa emangnya? kan ada pisang tuh di atas”. “Udah jangan. Tadi aja temenku dah naik kesana, tapi apa yg di dapat. Bukannya pisang e malah kena siram” jawab monyet B serius. “O gitu, ya. trims deh” jawab monyet C.
Sang profesor pun mengeluarkan monyet B dan menggantikannya dengan monyet D. Dengan semangat kelaparan melihat pisang terikat di tiang, monyet D pun mencoba memanjat tiang. Namun, langkahnya coba dihentikan oleh monyet C. Sedikit kesal, monyet D berkata “Ngapain sih lu halangin gue manjat? lu lagak liat apa di atas sono ada pisang yang lezat?”. Dengan sok bijaksana monyet C berkata “Udah gak usah manjat kesana. Ntar kena siram lho”. “Lah emang sapa yang bilang gitu?” jawab monyet D masih kesal. “Tadi kata temen gue” jawab monyet C. Tapi dasar sifat monyet D ni agak keras kepala dan ngeyel. Meski dah dibilang jangan naek, e dia malah cuek aja dan ngeloyor manjat tu tiang. Karena sang profesor dah nggak nyiram lagi, monyet D asyik aja manjat dan akhirnya menikmati pisang lezat. Si monyet C bisanya cuman mupeng aja melihat monyet D menikmati pisang di atas tiang.
Coba deh kita bercermin dari cerita tu. Kira-kira ketika kita menghadapi sebuah peluang, apakah kita akan seperti monyet A, berusaha mengambil “peluang” tersebut meski putus asa di tengah jalan, atau seperti monyet B, yang sok bijaksana hanya melihat yang laen berusaha, atau yang paling parah seperti monyet C, yang cuman denger kata monyet laen, e udah bisa melarang yang laen untuk mengambil “peluang” bagus tersebut. Ataukah kita ingin seperti monyet D, berani mengambil resiko, rasain dulu, baru tahu hasilnya?
Tadi sore waktu aku duduk di ruang guru, tiba-tiba hp antikku bergetar. Tampak nomor tak tersimpan menongol dengan beraninya, ku angkat aja tanpa praduga laksana anggota KPK. “Hallo, assalamu’alaikum. siapa ya?” seketika ku angkat telpon. “Ini asep, dink. Pa kbr?” di ujung sana suara asep, teman lamaku waktu kuliah dulu. “Alhamdulillah baek.” jawabku. “Gmn dah melahirkan istrimu?” jawabku. “Udah dink, alhamdulillah bayinya perempuan. Beratnya 3,4 kg dan panjangnya 49 cm” jawab asep bersemangat ala orang berpuasa. ” Wah, selamat ya” jawabku dengan senangnya.
Wah, betapa senangnya mendengar kabar teman lama yang sekarang dah jadi bapak. Semoga saja asep dan istri diberikan kesabaran dalam mendidik dan merawat buah hati mereka sehingga kelak buah hatinya menjadi putri yang sholehah, amin.
Perjalanan panjang di awali dengan langkah kecil
Berteman impian untuk mengukir nama sebagai pahlawan kehidupan
Dan berbekal hasrat kuat menghujam di dada
Aku langkahkan perjalanan ini menuju alam lainku
Hingga perjalanan itu kini kian menanjak
Beriring angin yang kian kencang
Aku pasrahkan
Perjalanan ini pada kekuatan impianku
dan berhias sikap terus belajar
dan bertumbuh
Kemarahanku tiba-tiba tersulut. Seperti api yang merayap, membakar kayu kering. Entah alasan apa yang menyergapku hingga kemarahanku bisa datang. Dewasalah. Kemarahanmu hanya menunjukkan kekanak-kanakanmu. Atau jangan-jangan dirimu ingin menjadi Peter Pan? Itu lho tokoh film yang beberapa waktu lalu kau tonton. Dia kan berjanji kepada rekan-rekannya bahwa ia tidak akan menjadi dewasa. Karena menurut dia menjadi dewasa adalah hal yang buruk. Dimana permainan adalah kesehariannya. Dewasa adalah sebuah pilihan, dan menjadi tua adalah sebuah kepastian. Dirimu pilih yang mana?